Tuesday, September 19, 2006

SINOPSIS

• Jika segalanya ("suara Tuhan", diri, dan dunia) merupakan suatu keutuhan yang tak terpisahkan, adakah paradigma yang secara efektif memungkinkan dan memudahkan kita memahami dan menyelami konsep mahapenting itu secara utuh, konsisten, dan tuntas?
• Jika pada hakikatnya yang selalu kita sadari hanya setitik kesadaran pada saat ini, sebab masa lalu dan masa depan tidak ada di sini, lalu apa yang terbaik kita sadari pada setiap titik tersebut?
• Jika bahasa hanya semacam kemasan kosong ("word doesn't mean, people means"), padahal pada era informasi ini jumlah kata/istilah terus meledak tanpa kendali, lalu bagaimana caranya agar kita tetap setia dan lebih percaya pada suara hati nurani daripada apapun yang datang dari luar?

Ahmad Thoha Faz, seorang intelektual akar rumput dan edutainer berbakat dengan kombinasi khas antara pengetahuan multidisiplin dan pengalaman yang berbeda, selama sekitar dua belas tahun (1994-2006) berusaha merumuskan sederet pertanyaan fundamental tersebut. Kemudian melalui pemaparan alasan yang tangguh dan ulasan yang terang dengan gaya bahasa populer yang menawan, alumnus ITB ini mencetuskan sebuah paradigma alternatif revolusioner tentang bagaimana menikmati hidup dan proses belajar sepanjang hayat secara utuh (seutuh "titik") dan secara ikhlas (seikhlas "joy of being nothing")--dalam segugus gagasan dan wawasan yang unik dan cantik, kompak, dan mendobrak.

Buku yang dilengkapi ilustrasi visual yang konklusif ini terdiri atas 4 bagian, dalam 12 bab, yang utuh dan terurut apik. Keempat bagian itu berisi:
• siapa diri kita yang seutuhnya (“Sang Musafir yang Rindu Pulang”);
• apa yang kita sadari secara utuh (“Simbol-Simbol Tuhan”);
• bagaimana kita membangun kesadaran dari titik (”Prinsip-Prinsip Universal untuk Membaca Diri dan Dunia”);
• mengapa Titik Ba diperlukan dan membalikkan kesadaran kita secara radikal dan diametral (”Ke Titik Ba, Dari Titik Ba”).

Siapapun Anda, apapun latar belakang pendidikan dan pekerjaan Anda, karya orisinal yang sangat inspiratif ini (1) mendukung Anda dengan tegas untuk menghayati entitas, hubungan, dan proses apapun secara utuh-bermakna-dan-sederhana, (2) menemani Anda dengan akrab dan setia untuk "berdiri di atas kaki dan hati sendiri" (berdikahari) sebagai awal perubahan-diri dari dalam ke luar, serta (3) menggugah rasa dan menggugat nalar Anda untuk selalu memulai dan menyatukan setiap aktivitas dalam keagungan nama-Nya.

Wednesday, August 02, 2006

PASAR BUKU NONFIKSI

Kiprah Penerbit Menaklukkan Pasar Buku Serius

MEMASARKAN buku-buku nonfiksi, terlebih bertema serius, tebal, tampaknya menjadi momok bagi sebagian besar penerbit di negeri ini. Pengalaman menunjukkan, antusiasme masyarakat mengonsumsi buku-buku semacam ini minim, terlebih jika buku semacam ini dijual dengan harga yang relatif lebih tinggi.

FAKTA semacam ini pula yang mengindikasikan kurang bergairahnya produksi buku-buku nonfiksi-di luar kategori buku pelajaran sekolah-jika dibandingkan dengan buku-buku fiksi. Sebagai gambaran, data penjualan buku-buku di bulan Mei 2005, yang dihimpun Kompas dari jaringan toko buku Gramedia dan Kharisma, memaparkan penjualan terbesar untuk satu judul komik sebanyak 6.815 eksemplar. Di sisi lain, penjualan terbesar untuk satu judul buku kategori fiksi sebanyak 974 eksemplar, sementara untuk satu kategori buku nonfiksi tidak lebih dari 453 eksemplar per judulnya. Angka ini menunjukkan, penjualan buku-buku nonfiksi terbawah tidak lebih dari separuh bagian buku-buku fiksi.

Sekalipun fakta mengungkapkan kondisi betapa tertinggalnya pemasaran buku-buku nonfiksi, hal itu tidak membuat surut langkah sebagian penerbit untuk tetap berkreasi memasarkan buku-buku serius semacam ini. Fakta pun menunjukkan, tidak jarang buku-buku demikian menuai sukses di pasaran.

Buku Batas Nalar karya Donald B Calne terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, misalnya, berhasil mematahkan argumen itu. Buku setebal 458 halaman yang membahas soal wawasan baru tentang hakikat dan peran nalar yang sesungguhnya ini sekarang telah dicetak ulang tiga kali dengan oplah sekitar 8.000 eksemplar, dalam tempo hanya tujuh bulan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila buku tersebut sempat tercatat menjadi salah satu buku laris untuk kategori buku nonfiksi di Pustakaloka edisi bulan Mei lalu.

Larisnya buku-buku dengan tema serius seperti yang terjadi pada buku Batas Nalar ini paling tidak telah memupus anggapan orang selama ini bahwa buku berat atau serius akan sulit terserap oleh pasar. Sebagai gambaran, buku serius yang umumnya merupakan buku nonfiksi bisa terjual 3.000 eksemplar dalam kurun waktu satu tahun sudah tergolong sangat bagus untuk ukuran dunia perbukuan di Indonesia. Umumnya, buku-buku nonfiksi dengan oplah 1.000 hingga 3.000 eksemplar baru terserap seluruhnya oleh pasar dalam waktu tidak kurang dua tahun.

Memang diakui, di belahan dunia mana pun buku nonfiksi sulit menandingi buku fiksi dalam soal jumlah penjualannya. Selain karena isinya kerap dianggap tidak semenarik buku fiksi, target pembacanya pun umumnya khusus dan jumlahnya terbatas. Sebagai contoh buku-buku yang bertutur tentang teori filsafat, mereka yang akan membaca atau membeli buku tersebut hampir bisa dipastikan merupakan kalangan yang sangat terbatas, seperti ahli filsafat, dosen filsafat, mahasiswa yang tengah mengambil mata kuliah filsafat. Buku semacam ini memang tidak menampik kehadiran pembeli dari luar kalangan itu, tetapi dipastikan jumlahnya sangat terbatas.

Hal ini sangat berbeda dengan buku fiksi. Buku fiksi, seperti novel serial teenlit yang saat ini digemari kaum remaja, penjualannya untuk satu judul dengan mudah bisa menembus angka puluhan ribu eksemplar dalam waktu kurang dari satu tahun.

Kendati sulit untuk menandingi omzet penjualan buku fiksi, dengan menarik pengalaman buku Batas Nalar, buku-buku nonfiksi pun tidak tertutup kemungkinan bisa laris di pasar. Persoalannya, apa yang harus dilakukan agar buku-buku serius itu bisa diserap dengan baik oleh masyarakat?

Menurut pengamat perbukuan Frans Parera, paling tidak ada dua kondisi yang perlu diciptakan agar buku bisa diserap secara luas. Pertama, menyangkut aspek psikologis yang di dalam teori pemasaran disebut segmentasi atau pengklasifikasian produk. "Segmentasi itu keluarnya dari kebutuhan psikologis orang," ungkap Parera.

Kedua, menyangkut aspek infrastruktur. Menurut Parera, infrastruktur bisa membuat pemasaran menjadi lebih baik. Jadi, bukan hanya dengan memengaruhi mental orang untuk membeli buku, mendidik orang membeli buku saja, tetapi juga ketersediaan infrastruktur, seperti toko buku dan keseluruhan sistem distribusi. Kedua faktor inilah yang dianggap memengaruhi penyerapan pasar.

Membidik komunitas

Pengalaman berbagai penerbit pun menuturkan hal serupa, betapa memasarkan buku serius atau pemikiran memang tidak mudah. Perlu kiat-kiat tertentu dan penanganan yang khusus pula. "Menurut saya, buku khusus harus dijual dengan cara khusus juga, Tidak bisa mengandalkan dengan penjualan seperti biasanya," kata Antonius Riyanto, Direktur Utama Grup Agromedia, yang membawahkan empat penerbitan, di antaranya penerbit Gagas Media. Cara khusus yang dimaksudkan tidak lagi hanya mengandalkan pola-pola penjualan konvensional dengan menggunakan toko buku sebagai outlet penjualan, tetapi juga mencoba berbagai alternatif pola penjualan lainnya.

Menurut Antonius, langkah pertama yang patut dilakukan dalam memasarkan buku pemikiran atau serius penerbit harus mampu mengidentifikasikan komunitas buku tersebut sehingga mengetahui siapa saja target pembelinya. Penerbit di bawah Grup Agromedia, misalnya, biasa menggunakan iklan di internet dan penyebaran informasi lewat surat elektronik atau e-mail.
"Buku khusus biasanya hanya dicetak sebanyak 1.500 eksemplar, maka jalan terbaik menggunakan internet karena, menurut saya, cara itulah yang memakan dana promosi sedikit. Jadi, kalau buku dicetak sedikit, dana promosinya juga sedikit," kata Antonius menjelaskan.
Tidak berbeda dengan Agromedia, penerbit asal Yogyakarta, Galangpress, pun menggunakan pendekatan komunitas untuk memasarkan buku-bukunya terutama buku-buku yang segmen pasarnya terbatas. Buku Bisik-bisik Remaja, misalnya, peluncurannya tidak di toko buku seperti biasanya, melainkan di sekolah-sekolah.

"Buku itu pasarnya memang anak-anak SMP dan SMA, jadi kami sengaja masuk ke sana (sekolah). Ternyata, respons untuk membeli cukup besar. Kalau di toko buku jumlah anak-anak sekolah yang masuk ke tempat itu lebih sedikit dibandingkan orang umum, otomatis pembelinya juga sedikit," kata Julius Felicianus, pemimpin Galangpress.

Tak hanya ke sekolah-sekolah, Galangpress juga mengadakan peluncuran-peluncuran buku di tempat-tempat mangkal para waria untuk memasarkan buku-buku bertema waria. "Beberapa waktu lalu kami coba di kota Malang di depan stasiun, tempat mangkalnya waria di sana. Buku yang kami bawa jumlahnya 25 habis dibeli, ternyata pembelinya teman-teman waria di sana," kata Julius menambahkan.

Hal serupa juga dilakukan penerbit ini dalam memasarkan buku Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang karya Romo Budi Subanar. Buku itu dicoba dipasarkan di toko buku ternyata tidak laku. Namun, setelah dipasarkan di komunitas-komunitas gereja, buku itu akhirnya bisa laku terjual.

Pengalaman penerbit KPG pun tidak berbeda. Sebelum sebuah buku terbit, KPG biasanya mulai mencari komunitas-komunitas yang diperkirakan akan menjadi pasar potensial. Pendekatan komunitas ini salah satunya dilakukan dalam memasarkan buku Orang Mandar Orang Laut. Berdasarkan informasi dari penulisnya, KPG berusaha untuk mendekati komunitas-komunitas Mandar yang merupakan satu daerah di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Dari pendekatan itu akhirnya ada pengusaha dan pemerintah daerah di wilayah itu tertarik untuk membeli buku tersebut dengan jumlah sekitar 1.000 eksemplar.

"Kami berusaha langsung ke komunitas yang berkepentingan. Jadi, apabila awalnya hanya akan dicetak 2.000 sesuai dengan daya serap toko buku, dengan adanya pasar di luar itu maka buku tersebut akan dicetak lebih dari 2.000 eksemplar," kata Aris Suwartono, Manajer Pemasaran KPG.

Perencanaan promosi

Jika ditelusuri, berbagai upaya dilakukan penerbit untuk memasarkan buku dengan melakukan pendekatan komunitas, iklan, pameran, bedah buku maupun kegiatan-kegiatan promosi lainnya yang dipersiapkan sejak awal sebelum buku diluncurkan ke pasar. Tak ubahnya komoditas lainnya dalam merebut pasar, memasarkan buku juga memerlukan strategi pemasaran dan rencana promosi yang matang.

Menurut Anton dari Grup Agromedia, hal yang pertama dilakukan adalah membuat segmentasi pasar secara tajam dan menyusun cara untuk bisa menembus pasar tersebut. "Setelah itu baru kami atur promosinya. Dibedakan kalau buku serius seperti apa, buku populer seperti apa. Jadi, kami harus merancang teknik promosi dan penyebaran buku sebelum buku itu diterbitkan," tutur Anton.

Pentingnya menyusun perencanaan promosi dan pemasaran buku dengan matang juga diungkap Aris Buntarman. "Orang promosi itu harus punya yang namanya promotion plan. Mereka harus tahu materi bukunya seperti apa, siapa pengarangnya, bagaimana latar belakang si pengarang, siapa target marketnya, kira-kira luas target marketnya berapa?" kata Aris, pemerhati perbukuan yang lama bergelut di bidang pemasaran buku.

Menurut Aris, dari informasi yang dikumpulkan tersebut dibuatlah sebuah rencana promosi atau rencana pemasaran. Oleh karena itu, orang marketing harus menjiwai peranan marketing is behaviour dan marketing adalah program. Pimpinan di bagian marketing harus mengidentikkan seperti jenderal perang. Ia harus mempunyai pasukan komando yang melayani outlet, mempunyai pasukan promosi yang menyusun provokasi dan propaganda maupun pasukan yang mendata pasar dan mendata alamat-alamat target dengan lengkap. Oleh karena itu, dalam marketing diperlukan sebuah team work yang kuat dan kompak, seperti layaknya sebuah perang.

Agar kegiatan promosi dan pemasaran bisa mendulang sukses, mau tidak mau penerbit harus secara khusus mengalokasikan sebagian dana dan sumber daya manusia untuk kegiatan tersebut. Umumnya penerbit menyisihkan 5 hingga 8 persen dari ongkos cetak buku untuk kegiatan promosinya. Sementara itu, untuk pemasarannya, selain tenaga penjual, penerbit juga mempunyai checker-checker yang tiap harinya keliling ke toko-toko buku untuk mengecek ketersediaan buku-buku di tempat-tempat tersebut. Bahkan, penerbit seperti Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan Grup Agromedia saat ini mempunyai tenaga salesman dan sales promotion girls (SPG) yang ditempatkan di toko-toko buku. "Tugas SPG kami untuk memperkenalkan buku GPU secara detail kepada setiap pengunjung," kata Danang Priyadi, Manajer Pemasaran GPU.

Kegiatan-kegiatan promosi memang penting, alokasi dana untuk promosi juga penting, ketersediaan infrastruktur pemasaran tak kalah pentingnya, namun dari semua itu yang paling penting adalah bagaimana buku itu sendiri bisa menarik sebanyak-banyaknya orang untuk membeli. Menurut ahli pemasaran Hermawan Kartajaya, hal yang paling penting agar buku itu laku adalah diferensiasi.

"Bagaimana membuat buku kita menjadi berbeda dari yang lainnya, sebab buku yang sejenis itu kan banyak. Judul harus menarik, singkat tapi dapat membedakan dengan buku sejenis, harus melihat tren buku sekarang, dan juga jangan memaksa orang untuk membaca sesuatu yang susah. Kalau ada buku yang susah harus dikemas dengan bahasa yang enak, dan gambar-gambar yang menarik," kata Hermawan menjelaskan.

Untuk itu, peran penerbit menjadi sangat vital dalam persoalan ini. Menurut dia, penerbitlah yang harus menyetir sehingga penulis bisa menyusun buku sesuai dengan keinginan pasar.
Hal semacam ini pula yang ditegaskan Frans Parera dalam memandang para penerbit di negeri ini. Menurut Parera, penerbit di Indonesia tidak tegas dalam merumuskan publishing policy atau editorial policy. Padahal, kedua kebijakan ini menjadi pijakan untuk mendekatkan penulis dengan pembacanya. Akibatnya, sering kali buku-buku karya penulis lokal tidak dapat memenuhi selera masyarakat. Karena itu, buku-buku tersebut tidak terserap pasar. Kalaupun laku, ia tidak akan menjadi best seller.

Jadi, penerbit harus berperan sebagai jembatan antara penulis dan pembaca. Di satu pihak harus dekat dengan pembaca atau konsumen agar tahu selera konsumen, sementara di pihak lain harus dekat dengan penulis agar bisa menulis dengan rutin, menulis dengan aspek-aspek menarik tentu saja.
(WEN/BIP/UMI/Litbang Kompas)

BESTSELLER

Bestseller

Anda mungkin kurang familier dengan nama AA Milne. Tapi, ketika Anda disodorkan sosok Winnie the Pooh, tentu Anda akan bilang, ''Ya, saya tahu.'' Milne adalah penulis buku the Pooh. Dari sekadar corat-coret fantasi kartunnya, Milne menjadi sangat terkenal. Dia pun sangat kaya. Pendapatan Milne dari karyanya itu lebih dari 300 juta poundsterling. Kalau dirupiahkan, Anda tentu akan tercengang. Tak kurang dari Rp 3 triliun. Milne bukan satu-satunya penulis buku yang kaya raya. Masih ada ratusan lainnya. Sebut saja Tom Clancy. Dari dua bukunya yang sudah terbit di Indonesia, Tom meraup sekitar 32 juta poundsterling (sekitar Rp 320 miliar).

Atau si penulis buku Jurassic Park dan Emergency Room, Michael Crihcton, yang juga meraup miliaran rupiah dari karyanya yang bestseller. Saya termasuk yang sangat menikmati alur Jurassic Park versi film layar lebar. Memang, film yang membayar mahal royalti Michael. Tidak semua buku karya penulis menjadi bestseller. Penulis Harry Potter, JK Rowling, sempat merasakan itu. Buku pertama Rowling tidak laku di pasaran. Rowling yang kini menjadi salah satu orang terkaya di Inggris hanya memperoleh 2.500 poundsterling. Ada juga novelis Magnus Mills yang karyanya berjudul The Restraint kurang laku. Dia hanya meraup royalti sebesar 10 ribu poundsterling. Memang, untuk ukuran Indonesia, jumlah segitu tergolong sangat besar. Tapi, tidak di Amerika dan Inggris.

Kondisi di Indonesia tak jauh berbeda. Ada buku yang tidak cuma laris di pasar, tapi juga diangkat ke layar lebar. Sebaliknya, tidak sedikit buku yang tidak laku dijual. Dampaknya, penerbit tidak untung, dan penulisnya tidak mendapat apa-apa. Yang kedua inilah yang lebih banyak terjadi, Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya membuat buku yang nantinya bestseller? Pertanyaan ini memang enak didengar, tapi sangat sulit dijawab. Tapi, bukan berarti tidak ada jawaban atas pertanyaan itu. Saya sendiri sering mendapat pertanyaan seperti ini baik ketika berdiskusi tentang jurnalistik maupun atau penulisan buku. Di Inggris, misalnya, pertanyaan serupa sering terlontar. Banyak kaum yang awam menulis dan penulis pemula yang melayangkan surat kepada para penulis terkenal tentang rahasia membuat buku yang laris. Surat yang sama juga disampaikan kepada sejumlah media di Inggris.

Salah satu raksasa media di sana, Guardian, akhirnya melakukan liputan khusus tentang rahasia membuat buku laris. Dari penelusuran Danuta Kean, editor berita Bookseller, untuk membuat buku menjadi laris gampang saja. Kata dia, 70 persen ada di buku itu sendiri dan 30 persen dari kerja marketing. Pemasaran di sini termasuk kegiatan publikasi di media massa dan media non-massa, in-house promotion, diskusi dan bedah buku, serta hubungan dengan agen-agen dan toko buku. Victoria Routledge, mantan editor Headline, menyatakan bahwa setiap penulis buku ingin tampil 'wah' dan glamor. Untuk itu, kata Victoria, peran marketing cukup besar untuk mewujudkan mimpi para penulis tersebut. ''30 persen itu sangat berarti,'' tandasnya.

Yang paling utama, dari hasil liputan itu, laku-tidaknya sebuah buku tergantung dari isi dan desain buku itu sendiri. Marketing yang bagus dan jor-joran, tapi kalau isi bukunya tidak oke, tentu hasilnya tidak akan menggembirakan.Isu buku yang dimaksud meliputi kandungan cerita atau tulisannya, kover depan dan belakang, dan daya tariknya. Juga, terkait dengan orijinal tidaknya isi buku itu serta mampu tidak mengikat emosi pembacanya.Satu contoh buku sukses yang mampu mengikat emosi pembacanya adalah A Child Call It karya Dave Pelzer. Atau, Sheila karya Torey Hayden yang belum lama datang ke Jakarta. Termasuk The Da Vinci Code karya Dan Brown.

Menurut Danuta, buku-buku itu tak hanya kuat dari alur tulisannya. Tapi juga mampu mengikat emosi pembacanya. Tak heran jika buku-buku tersebut masuk bestseller. Selama beberapa pekan ini, The Da Vinci Code berada di urutan teratas buku paling laris di Inggris. Di Amerika, buku ini pun laris manis. Memang, terlalu sederhana jika kita menganggap 100 persen benar hasil riset Guardian itu. Saya sangat percaya kedua faktor itu memang menjanjikan untuk bisa membuat buku bestseller. Tentu, kita juga tidak bisa mengabaikan faktor-faktor lain yang memiliki andil besar untuk menciptakan laris-tidaknya sebuah buku. Persoalan momen, misalnya. Di Amerika, menyusul tragedi serangan 11 September 2001, buku-buku terkait dengan teroris dan penyerang itu laku keras. Begitupun yang terjadi di belahan Eropa. Sebut saja di Inggris dan Jerman. Hampir semua buku yang bercerita tentang motif dan pelaku serangan itu menjadi bestseller.

Termasuk ketika invasi AS ke Irak terjadi, buku-buku terkait dengan serangan itu pun laris. Dalam hal ini, momen memainkan peran penting untuk menjual buku. Masalahnya, jika publik sudah melupakan momen itu, otomatis buku-buku itu pun sulit untuk laris lagi. Setidaknya, jadi sekadar dokumen sejarah saja tapi kadang-kadang tetap dicari. Saya jadi teringat Tolkien, penulis The Lord of The Rings. Kata Tolkien, untuk membuat sebuah buku yang menggugah dan laku, buatlah dengan sepenuh hati. Tapi, tetap dikerjakan dengan rileks.()

DUA PEKERJAAN PENULIS

Dua Pekerjaan Penulis 28.04.2006

Selama ini mungkin Anda mengira pekerjaan seorang penulis adalah menulis, mengirimkannya kepada penerbit. Kemudian Anda tinggal duduk manis di rumah, bersantai, sambil merem melek membayangkan berapa besar royalti yang akan dibayarkan kepada Anda.

SALAH BESAR. Uraian di atas hanyalah satu dari dua pekerjaan seorang penulis. Pekerjaan lain yang HARUS dilakukan seorang penulis adalah MENJUAL. Ya betul. Anda harus menjual.

Tunggu sebentar! Mungkin ada yang menolak untuk melakukannya. Pikirnya, daripada saya repot-repot menjual buku kesana kemari, mendingan saya menulis buku lagi. Kan lebih banyak buku, lebih banyak royalti. Merem meleknya bisa lebih afdol. Urusan menjual, serahkan saja ke penerbit. Yah, hidup memang pilihan. Anda bisa memilih cara seperti ini. Tetapi sebelum Anda memilih jalan ini, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan.

Jangan biarkan hanya penerbit yang melakukannya untuk Anda. Itu adalah hasil karya yang Anda kerjakan siang malam. Kebanyakan penerbit tidak mengetahui persis yang Anda tulis. Andalah yang tahu persis isi buku Anda. Maka tenaga penjual yang paling hebat adalah Anda sendiri.

Karena Anda yang paling mengetahui isi buku Anda, maka tentu saja Anda mengetahui siapa saja yang mau membeli buku Anda. Jaringan penerbit kemungkinan tidak akan sanggup menggapai semua kalangan. Misalnya Anda menulis buku tentang hobi fotografi. Belum tentu semua orang yang gemar fotografi akan berada di toko buku. Justru mereka sedang asyik memotret di luar. Andalah yang perlu mendatangi mereka, dan menceritakan tentang buku Anda. Andalah yang paling tahu calon konsumen buku Anda .

Ingat bahwa Anda bukan satu-satunya penulis. Misalnya Anda menulis tentang fotografi, ada juga orang lain yang menulis tentang fotografi. Lalu bagaimana orang akan memilih buku Anda. Pesaing Anda juga belum tentu buku tentang fotografi, tetapi juga buku lain. Di era ekonomi sulit seperti ini, orang akan cenderung mengurangi jatah menjual buku. Maka Anda harus aktif menjual buku Anda sendiri.

Sekali lagi, Anda bukan satu-satunya penulis. Penerbit kebanyakan memiliki banyak stok penulis. Kalau ada penulis yang bukunya best seller, penerbit dengan senang hati memberikan waktu dan perhatian lebih untuknya. Dibuatkan acara temu penulis, tanda tangan, konperensi pers, seminar, dll. Bagaimana dengan penulis lainnya, yang justru kebanyakan adalah penulis mid seller, bukunya terjual biasa-biasa saja. Ya, cuma gigit jari. Kecuali kalau Anda mengusahakan sendiri.

Ingat pula bahwa dengan menjual, Anda juga meningkatkan nilai Anda di mata penerbit. Jika buku Anda terjual dengan baik, untuk buku selanjutnya penerbit akan menerima kedatangan Anda dengan senyum manis. Kalau buku Anda tidak laku, penerbit akan berpikir dua, tiga bahkan seribu kali untuk menerbitkan buku Anda. Amit-amit, penerbit tidak akan mau kejeblos dua kali dengan penulis yang sama.

Dengan alasan-alasan di atas, apakah kini Anda berniat menjual buku Anda? Jika ya, berarti Anda benar-benar menjadi seorang penulis sejati.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara menjualnya. Beberapa orang akan dengan sigap memesan buku dari penerbit, kemudian dengan gaya seorang salesman berusaha menjual kepada setiap orang yang ditemui. Bukan seperti itu maksudnya. Cara di atas hanya satu dari pengertian menjual yang dimaksud di sini. Pengertian menjual di sini lebih luas lagi. Pengertian ini akan dibahas dalam tulisan lain.
oleh Didik WijayaCopyright Penerbit Escaeva

JEWS VS JAWA

Kata Ustadz Ba'asyir, "Senjata dilawan dengan senjata. Kalau senjata dilawan dengan lidah, itu tidak waras."

Kalau logika Ba'asyir diteruskan: "pena dilawan dengan pena". Nah, ini yang seharusnya sangat menarik terutama yang dikaruniai IQ di atas 100.

Bangsa Yahudi (keturunan Ya'qub alias Israel bin Ishaq bin Ibrahim 'alaihim al-salam terkenal bangsa yang cerdas. Inni fadhdhaltukum 'ala al-'alamin, sesungguhnya Aku telah utamakan di atas pentas semesta, kata Tuhan (asumsikan saja Dia ada). Einstein, Feyman, Neumann, George Sorros, Alan Greenspan, David Ricardo,...Bill Gates. Pengaruhnya jauh merasuki tulang-sumsum penghuni bumi. Cara kita berpikir, berbicara, bergaya hidup sangat dipengaruhi oleh program yang mereka tulis.


Kita bisa saja berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), namun hati yang kita gunakan boleh jadi pinjaman.

Bangsa Yahudi, sama halnya dengan suku Jawa, tidak semuanya baik. Tidak semuanya jahat. Hutang budi kita kepada Einstein dan Gates tak terkirakan.

Kapitalisme mereka ciptakan. Berjuta-juta manusia meyakini dan membelanya mati-matian.

Namun drama global tidak menarik tanpa saingan atau tandingan. Komunisme pun mereka ciptakan.

Berjuta-juta manusia meyakini dan membelanya mati-matian. Melawan kapitalisme dianggap membela komunisme, dan sebaliknya. Ratusan juta manusia saling berkelahi...dan mati! Di Indonesia, drama global itu pun sangat kita rasakan.

Das Kapital karya Karl Marx dan The Wealth of Nations karya Adam Smith terdiri atas terdiri atas ribuan huruf. Satu huruf mungkin berarti ratusan hingga ribuan nyawa yang melayang sia-sia. Mereka terbunuh menentang atau membela pikiran Marx atau Smith, yang kenal pun tidak.

Marx dan Smith telah membuat skenario drama global, jauh lebih kuat dan dahsyat daripada skenario film karya Asrul Sani.

Mahasiswa ITB berdemo di jalanan mungkin bagus. Namun alangkah baiknya kalau ada sebagian berdemo di kesunyian dengan pena dan kertas.

Sebab pena tidak bisa dilawan dengan senjata manapun...dan perang antar pena itu peradaban manusia berkembang secara beradab.

BUKANKAH KITA JUGA BERKICAU? (Lomba pidato bhs inggris)

Lomba pidato bahasa Inggris sebentar lagi. Isteriku, sebagai guru bahasa Inggris di MI belakang rumah, menangis karena naskah pidato belum juga dibuatnya. Dia terus merajuk, minta dibantu.

Membuat naskah pidato bahasa Inggris sih mudah saja. Buku-buku di rak sebagian besar berbahasa Inggris. Tinggal aku fotokopi selembar. Beres.


Tapi masalahnya bukan itu. Bahasa hanyalah kicauan saja sampai terikat dengan kesadaran si pengucap untuk memaknainya.

Aku minta bertemu dengan calon pengucap pidato. Aku ingin naskah pidato dibuat bersamanya.

Namanya Latif. Tubuhnya tidak langsing. Ialah siswa kelas 6 (baru naik kelas) yang ditunjuk mewakili MI.

Kalimat aku buat sambil segera "diujicobakan". Seringkali Latif kesulitan melafalkan beberapa kata, misalnya word.

"Pernah dengar orang cedal berpidato? Yang penting percaya diri saja," aku meyakinkan Latif untuk tak terlalu pusing dengan bagaimana pengucapan yang "benar" ketika di tengah-tengah pidato. Bahasa tubuh boleh jadi jauh lebih penting daripada pelafalan yang benar.

Tidak ada pengucapan yang benar. Orang Sunda menulis suara jago "kukuruyuk" (pakai R); orang Jawa, "kukuluruk" (pakai L). Mana yang benar?

Yah, aku berusaha menerapkan Titik Ba pada kontes dan konteks yang lebih tangible. Setelah kucoba pada pembelajaran ultra-cepat eksakta (dengan adikku yang baru dropout dari Gontor), sekarang pada bahasa dan komunikasi. Hasilnya?

Latif melapor bahwa dia juara I sekecamatan. Dia maju ke tingkat kabupaten.

Latif melapor lagi, bahwa dia juara I sekabupaten. Dia maju ke tingkat provinsi di Demak pada bulan Agustus ini.

Aku sangat senang. Sebab selama ini aku sedang menghimpun fakta yang berkaitan dengan dekontruksi-rekonstruksi pendidikan. Mungkin lebih luas lagi, "transformasi paradigma".

Selain melalui buku Titik Ba (wacana), juga tataran praksis!

Selama ini banyak didiskusikan tentang anggaran dan kurikulum pendidikan. Mungkin diskusi itu penting, tapi aku yakin bukan merupakan masalah utama. Diskusi mengenai tema itu hanya masalah bagaimana menyembuhkan "jerawat", padahal kita sedang "bisulan".

Masalah utamanya, benarkah apa yang kita pelajari dari TK sampai perguruan tinggi berguna?

Apa sih tujuan pendidikan? Pendidikan, menurut Titik Ba, seharusnya membantu setiap individu dapat BERDIKA HARI (berdiri di atas kaki dan hati sendiri)

Wednesday, July 26, 2006

ALI SYARI'ATI

Judul buku : Ali Syari'ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner
Penulis : Ali Rahnema
Penerbit : Erlangga, Jakarta
Edisi : I, 2006
Tebal : xvi + 648 halaman

ALI Syari'ati adalah sebuah nama yang tak asing lagi bagi kebanyakan kalangan umat Islam, termasuk di Indonesia. Kemasyhurannya bisa disandingkan dengan tokoh-tokoh Republik Islam Iran lainnya, seperti Imam Khomeini, Murtadha Muthahhari, dan Allamah Thaba'thabi. Nama-nama mereka cukup familier di telinga umat Islam Indonesia.

Seperti tokoh-tokoh Iran lainnya, ketokohan dan intelektualitas Syari'ati semakin populer bagi masyarakat muslim Indonesia setelah Revolusi Iran meletus pada 1979. Apalagi setelah buku-buku karyanya, misalnya Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya, Islam Agama 'Protes', dan Haji diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

Kini, sosok, latar belakang, aktivitas, dan pemikiran Syari'ati bisa dibaca dan ditelaah lebih dalam melalui buku karya Ali Rahnema, Ali Syari'ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner. Melalui buku itu Syaria'ti semakin mudah dipahami masyarakat Indonesia. Dalam buku itu Rahnema memaparkan sisi-sisi kehidupan Ali Syari'ti, mulai dari masa kecil, pendidikan, politik, hingga kematiannya dalam pengasingan pada umur 44 tahun, usia yang relatif muda.
Rahnema memotret perjalanan kehidupan dan aktivitas politik Syari'ati sebagai seorang pemikir religius dan aktivis revolusioner.

Inilah satu-satunya buku biografi Ali Syari'ati yang kini diterbitkan dalam edisi Indonesia dan ditulis dengan data lengkap, mendalam, dan mendetail. Rahnema tidak hanya menjelaskan liku-liku dramatis dan tragis perjalanan kehidupan Syari'ati, tetapi juga memaparkan kondisi budaya, sosial, ekonomi, dan politik yang mengitarinya. Dengan objektivitas akademisnya, tapi tetap simpati dan hormat, guru besar dalam bidang ilmu ekonomi pada American University, Paris, ini berhasil merekam dan menawarkan pemahaman baru tentang sosok dan figur Syari'ati yang posisinya di dalam Revolusi Iran cukup penting dan diperhitungkan.

Buku biografi Ali Syari'ati ini melanjutkan dan memperkukuh tradisi penulisan riwayat hidup seseorang yang telah berlangsung selama 15 abad lebih. Tradisi penulisan biografi ini bisa dilacak pada masa-masa awal Islam yang biasa disebut sirah. Penulis biografi Nabi Muhammad SAW paling awal adalah Aban ibn Utsman ibn Affan (w. 105/723)--putra Khalifah Utsman ibn Affan yang lahir 10 tahun setelah Nabi wafat. Penulis pertama yang menggunakan istilah sirah atau biografi ialah Muhammad ibn Muslim ibn Syihab al-Zuhri yang merekonstruksi sirah Nabi dengan struktur yang baku, dan menggariskan kerangka dalam bentuk yang jelas.

Biografi adalah sirah, sekaligus tuntunan, anutan, sejarah, dan masa lalu yang sangat layak dipelajari dan dikaji untuk kehidupan masa depan. Karena itu, sebuah buku biografi, termasuk buku biografi Ali Syari'ti ini bisa menjadi uswah hasanah bagi perilaku teladan kehidupan dan pemikiran seseorang dan masyarakat luas umumnya. Dengan demikian, biografi Syari'ati ini layak dijadikan sebagai sumber referensi untuk merumuskan masa depan pemikiran dan aktivitas politik umat Islam, termasuk pula bagi masyarakat Indonesia.

Biografi Syari'ati karya Rahnema ini tampaknya mengikuti gaya dan model penulisan biografi klasik yang biasanya menggunakan pendekatan kronologis--ditulis secara berurutan dan terinci sesuai dengan masa-masa terjadinya suatu kisah atau peristiwa kehidupan. Biografi semacam ini sering disebut sejarah kronologis atau sejarah 'urut kacang', dan banyak digunakan para penulis biografi. Inilah cara penulisan biografi yang paling sederhana, akurat, dan tidak terlalu rumit untuk menjelaskan dan memaparkan rincian-rincian dasar perikehidupan seseorang.
Karena kronologis, penulisan biografi klasik biasanya dimulai dengan penggambaran kehidupan seseorang dari prakelahiran, kelahiran, masa kanak-kanak, keluarga, perkawinan, pendidikan, aktivitas, pemikiran, pemberontakan, pemenjaraan, hingga masa-masa akhir hidupnya, seperti tampak jelas pada biografi Syari'ati yang ditulis Rahnema ini.

Buku yang terdiri atas 23 bab ini dimulai dengan pemaparan Rahnema tentang kondisi politik dan religius yang melatarbelakangi prakelahiran Syari'ati dan keluarganya, yang ditulisnya hingga tiga bab.

Dalam bab empat, Rahnema baru memaparkan tentang masa kecil dan masa dewasa yang dilalui Syari'ati. Seperti disebutkan Rahnema, pikiran dan ide-ide Syari'ati dibentuk oleh bacaan yang diperolehnya selama masa pendidikan (h. 69-73). Bacaan-bacaan Syari'ati cukup beragam, dan memengaruhi pola pikir dan ide. Daftar bacaannya berjalan melalui sebuah transformasi radikal pada saat dia mulai masuk ke sekolah dasar sampai ke sekolah menengah.
Di sekolah dasar, Syari'ati telah membaca berbagai jenis buku; karya Victor Hugo Les Miserables, Que sais-je, History of Cinema, dan buku populer yang best seller seperti Zan-e- Mast. Di tingkat sekolah menengah, Syari'ati mulai mempelajari buku-buku yang berkaitan dengan masalah-masalah filsafat, mistik, dan sufisme. Dalam bidang filsafat, ia melahap karya-karya filosof Jerman, seperti Arthur Schopenhauer, Franz Kafka, dan penyair besar Jerman Anatole France. Ia memiliki kenangan pertama terhadap karya-karya Maurice Maeterlink. Ia mengacu kepada penulis dan penyair simbolik dari Belgia ini sebagai pemandu dalam merefleksikan dan memeditasikan kebenaran yang ada di balik realitas.

Adapun literatur sufi yang dibaca Syari'ati adalah karya sufi besar, seperti al-Hallaj, al-Junayd, Qadi Abu Yusuf, Syabastari, Qusyairi, Abu Said Abu al-Khayr, Abu Yazid al-Bustami, Ayn al-Qudat al-Hamadani, dan Maulana Jalaluddin Rumi. Dalam masa-masa tersebut, seperti dijelaskan Rahnema, Syari'ati juga telah membaca buku-buku tafsir Alquran, sastra, puisi, sejarah Islam, dan tentu saja buku-buku politik.

Dalam bab-bab berikutnya, khususnya bab lima, Rahnema memaparkan keterlibatan Syari'ati dalam aktivitas politik. Syari'ati, jelas Rahnema, secara efektif memulai aktivitas politiknya ketika menjadi mahasiswa pada institut keguruan. Baru pada 1950, Syari'ati menjadi anggota aktif dalam sebuah partai politik. Namun, dasar-dasar kesadaran sosial politiknya telah ia tanam pada Pusat Penyebaran Kebenaran Islam ketika ia masih berusia 15 tahun. Dalam perkembangan berikutnya, Syari'ati dapat digolongkan sebagai seorang agitator dan pemimpin politik, dan tentu saja tidak mengesampingkan tulis-menulis sebagai kegiatan utamanya. Antara periode 1951-1955, Syari'ati secara produktif menulis artikel-artikel tentang sosial politik.
Dalam artikel-artikelnya, papar Rahnema, Syari'ati menyerukan penerapan konsep Islam tentang al-amr bi al-ma'ruf wa al-nahy 'an al-munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar) ke wilayah sosial politik. Konsep Islam ini merupakan sebuah tanggung jawab sosial yang diwajibkan atas semua orang. Di tangan para agamawan tradisional, konsep Islam ini hanya dipahami dalam batas-batas ibadah. Konsep ini sebenarnya bisa diimplikasikan dan dimanifestasikan ke dalam kehidupan kontemporer, yaitu untuk mencegah kemungkaran sosial politik. Misalnya, berjuang menentang imperialisme internasional, zionisme, kolonialisme dan neokolonialisme, kediktatoran, pertentangan kelas, rasisme, imperialisme kebudayaan, dan westernism.

Dengan pemahaman semacam itu, jelas Rahnema, Syari'ati sebenarnya 'mengumandangkan' bahwa 'mengajak' kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran bukan monopoli agamawan, tapi menjadi tanggung jawab sosial, dan dalam konteks wilayah sosial politik, tanggung jawab sosial itu menjadi kewajiban setiap muslim. Kewajiban itu tidak hanya berupa nasihat, tapi sebagai ajakan yang mengikat dan didukung oleh kekuatan. Kewajiban itu mustahil dilaksanakan tanpa memerangi ketidakadilan dan perilaku jahat (h.474-475).

Pandangan Syari'ati ini membuktikan bahwa ia benar-benar sosok politikus-intelektual-revolusioner pada zamannya, seperti tampak jelas dalam judul buku Rahnema ini. (Idris Thaha, dosen politik Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, serta peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Tuesday, July 25, 2006

YUSUF MANSUR (2)

Suatu hari di penjara, dalam kondisi lapar -- hari itu entah kenapa cadongan (jatah nasi) tidak datang -- ia teringat mempunyai sepotong roti. Namun saat hendak disantap, ia melihat semut berbaris di dinding selnya, mencari makan.

''Tuhan elu sama dengan Tuhan gue. Begini dah, kalau gue berdoa tidak bakal terkabul karena dosa gue banyak, tapi, kalau elu pada yang berdoa barangkali terkabul. Nih, elu makan roti, tapi doakan gue bisa makan nasi. Perut lapar, nih,'' ia menirukan lagi ucapannya saat itu.

Yusuf pun meletakkan roti dekat semut dan membelakangi. Begitu, ia tengok kembali ke arah semut, roti pun ternyata sudah ludes. Anehnya, ujar Yusuf, mestinya semut berjalan lurus tapi saat itu ia melihat keajaiban, semut menuju ke bawah seperti ingin mendatanginya. ''Rupanya ada sesuatu yang ingin Allah ajarkan kepada saya. Nggak sampai sepuluh menit saya mendapat nasi bungkus dari rumah makan Padang,'' ujarnya.

Dari kejadian itu ia menyimpulkan, sedekah ini sangat istimewa.'' Saya penasaran dan mencari hadis-hadis qudsi yang ajaib seperti,'' ujarnya. Ia juga mulai gemar mengamati keutamaan berbagi. Perlahan, sisi spiritualnya kembali terasah. Di penjara pula ia menjadi seorang hafidz (penghafal Alquran).

Yusuf mengaku banyak mengambil hikmah dari kejadian masa lalu. Ia tidak pernah menyesali diri karena masuk bui. ''Dulu memang sempat berpikir, 'Ngapain malah jadi saya yang dipenjara?', Tapi saya berpikir positif saja, pasti akan ada hikmah yang bisa dipetik,'' lanjut bekas qori cilik nasional ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran Bulak Santri Tangerang ini mengaku mendalami Islam pertama kali saat menjadi 'santri sembunyi-sembunyi' di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta Selatan. Maksudnya, ia tidak terdaftar sebagai santri, namun turut belajar di perantren itu.

Lepas dari madrasah tsanawiyah, ia masuk ke Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol Jakarta Barat. Tahun 1992 ia lulus sebagai siswa terbaik, dan melanjutkan ke IAIN, kini Universitas Islam Negeri Jakarta.

Keluar dari penjara tahun 1999, ia bertemu seorang ulama lokal bernama Ustadz Basyuni. ''Ada seorang haji, orang Sunda tapi punya rumah makan Padang di Terminal Kalideres. Mau nggak kamu mengajar di terminal itu setiap malam Rabu bersama dia?'' ia menirukan.

Yusuf menerima tawaran itu. Jamaah pengajiannya sebagian besar adalah orang-orang yang mencari makan di sekitar terminal itu. ''Ada preman, calo, bekas pembunuh, bahkan ada yang pernah memerkosa mertuanya. Namun hidayah Allah itu kan untuk siapa saja.''

Sebelum mengajar mengaji, ia berjualan es kacang hijau. Modalnya saat itu hanya Rp 15 ribu, pemberian seorang kerabatnya sesaat seteleh keluar dari penjara.

Hari pertama berjualan, dari 75 kantong plastik yang harganya Rp 500, cuma laku lima bungkus. ''Hari itu saya hanya mojok saja merenungi nasib,'' ujarnya.

Sisa dagangan yang 70 bungkus itu ia awetkan dengan bongkahan balok es seharga Rp 1.500 yang uangnya diperoleh dengan berhutang. Ia sempat menangis. ''Ya Allah, masak saya sampai ngutang Rp 1.500.''

Ia lalu teringat teori semut-roti di penjara. Paginya, ia membagikan lima bungkus es secara cuma-cuma kepada pengemis di terminal itu. Tak disangka, tanpa perlu naik-turun bus Jakarta-Merak untuk menawarkan, dagangannya laku keras.

''Ini pelajaran kedua bagi saya: sedekah itu harus di depan, jangan di belakang atau nunggu sisa,'' jelasnya. Menurut dia, kalau sedekah dilakukan di depan, maka sama artinya dengan mengundang kekuasaan Tuhan untuk turut andil.

Kini Yusuf Manshur lebih dikenal sebagai dai dengan konsep Pengajian Wisata Hati-nya. Jamaahnya tersebar di 11 provinsi dan di masjid-masjid perkantoran di Jakarta. Tiap akhir pekan, pesantrennya dipadati jamaah korporat untuk mengaji.

YUSUF MANSUR

Perjalanan hidup anak manusia itu bermacam-macam. Ada yang datar, ada pula yang berliku-liku, jatuh bangun, bahkan hingga terperosok ke dalam kubangan lumpur, dan nyaris tanpa harapan. Namun, betapa pun besar dosa dan kesalahan manusia, Tuhan tak pernah menutup pintu taubat-Nya, asalkan ia mau sungguh-sungguh menyesali kesalahan dan dosanya, dan bersegera untuk kembali ke jalan Allah SWT yang lurus dan menyelamatkan.

Penggalan pengalaman hidup seperti itulah - dari kelam hingga akhirnya bersua dengan cahaya kehidupan - yang diungkapkan dalam buku ini. Penulisnya, Ustadz Yusuf Mansur, adalah seorang dai muda -- usianya belum lagi genap 30 tahun yang telah mengalami asam-garam penderitaan hidup; dua kali terpaksa menjalani kehidupan di dalam sel penjara, dan selama berbulan-bulan dikejar-kejar oleh banyak pihak yang mengaku dirugikan oleh perbuatannya. Urusan bisnis menyeretnya pada kasus pidana hampir 8 tahun silam. Ia masuk bui tahun 1998 selama dua bulan.

Bermula dari buku pertamanya yang ditulis di tahun 2000, "Wisatahati: Mencari Tuhan Yang Hilang" (diterbitkan Zikrul Hakim), Yusuf Mansur (kelahiran Desember 1976) terus mengembangkan Wisatahatinya ke berbagai bidang: publishing, training SDM, perdagangan, dan lain-lain, tanpa meninggalkan esensi dakwah dan syiar,

Selain mengembangkan Wisatahati, Yusuf Mansur kini tengah membangun dan mengembangkan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an, dengan bendera Daarul Qur'an, di kediamannya di Kampung Ketapang, Cipondoh - Tangerang, dan di Kampung Bulak Santri, Cileduk - Tangerang.

Monday, July 24, 2006

KESEMPATAN WAKAF TITIK BA

Mohon dukungan untuk Titik Ba dan peradaban dengan berwakaf buku "Titik Ba".
Beri hadiah terbaik untuk generasi terbaik. Gairahkan budaya baca.

Rekening: Citibank NA a/n Yudo Anggoro #3000511194
Email : titikba_hayati@yahoo.com (konfirmasi)

Buku akan kami distribusikan ke sasaran secara efektif dan efisien.

Sunday, July 23, 2006

KETIKA PENGARANG BUNUH DIRI

Ketika Pengarang Bunuh Diri

Kurt Cobain, Jimi Hendrix, Jim Morrison, Janis Joplin, Brian Jones, Layne Staley, Shannon Hoon, dan Sid Vicious adalah sederet nama artis musik rock yang mati bunuh diri. Kita tidak terlalu kaget mendengar para seniman ugal-ugalan itu mencabut nyawa mereka sendiri karena sehari-hari pun mereka selalu tampil sebagai orang yang depresif. Namun, bagaimana jika ada pengarang yang bunuh diri? Tentu kita bertanya-tanya mengapa hal itu bisa terjadi. Bukankah tampaknya pengarang menjalani hidup yang lebih tenang?

Baru-baru ini, saya mendengar kabar bahwa pengarang Amerika, Hunter S. Thompson, menghabisi hidupnya sendiri. Pengarang yang terkenal dengan karyanya Fear and Loathing in Las Vegas--filmnya diperankan oleh Johnny Depp--ini menembak dirinya sendiri. Saya jadi teringat Virginia Woolf, Ernest Hemingway, Yukio Mishima, dan Yasunari Kawabata.

Pada 1941, di puncak depresi yang mencengkeram dirinya, Virginia Woolf menenggelamkan diri di Sungai Ouse. Pengarang Inggris yang berjasa dalam menciptakan novel modern ini menamatkan riwayat hidupnya pada usia 59 tahun. Sebenarnya sejak 1895, setelah kematian ibunya, Woolf telah menderita gangguan bipolar. Sebelum bunuh diri, dia meninggalkan sepucuk catatan kepada suaminya yang menjelaskan bahwa dia merasa akan menjadi gila dan tidak akan bisa sembuh.

Gangguan bipolar (bipolar disorder/manic depressive) juga mendorong Ernest Hemingway mengakhiri hidupnya sendiri. Sesungguhnya telah berkali-kali maut mengintai Hemingway akibat gaya hidupnya yang avonturir: pada Perang Saudara di Spanyol saat sebuah mortir meledak di kamar hotelnya; pada Perang Dunia II ketika dia ditabrak mobil; dan pada 1954 ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh di Afrika. Namun, ironisnya, kematiannya baru tiba saat dia melakukan bunuh diri di Ketchum, Idaho pada 1961.

Uniknya, bunuh diri seolah menjadi tradisi dalam keluarga Hemingway. Ayah, abang, dan saudara perempuannya juga mati bunuh diri. Dan pada 1996, cucunya, aktris Margaux Hemingway juga bunuh diri. Fenomena ini seolah menegaskan faktor genetik dalam tindakan bunuh diri.

Hemingway menjalani masa kecil yang kelabu akibat ketidakharmonisan rumah tangga orangtuanya. Setelah dewasa, Hemingway sendiri berkali-kali mengalami kegagalan dalam pernikahannya. Ketika menginjak usia paruh baya, Hemingway menjadi penduduk Kuba. Di sini dia sempat merasakan kebahagiaan. Di masa ini pula, dia menerbitkan The Old Man and the Sea yang kemudian mengantarkannya meraih Hadiah Nobel Sastra pada 1954.

Kejayaannya berbalik ketika Fidel Castro naik ke tampuk kekuasaan dan mengusir orang Amerika keluar dari Kuba. Hemingway mulai depresi dan kreativitasnya menurun. Setelah berusaha melakukan bunuh diri dua kali, dia masuk rumah sakit dan dirawat untuk masalah psikologisnya. Dan akhirnya, setelah beberapa bulan didera depresi, gelisah, dan ketakutan, dia menembak dirinya sendiri.

Pada 25 November 1970, pengarang Jepang yang menakjubkan, Yukio Mishima, bunuh diri secara spektakuler di sebuah markas militer di Tokyo. Usianya baru 45. Tubuhnya, yang dia rawat dengan olahraga yang tekun--hingga otot-ototnya bergelombang bagus--masih nampak sempurna ketika dia merobek isi perutnya sendiri. Beberapa detik kemudian, seorang pengikutnya yang setia, yang siap di belakangnya, memenggal leher penulis novel Kinkakuji itu, putus empat kali pancung.

Kematian Mishima bagaikan sebuah teater. Mishima, bersama sejumlah anak buahnya yang terlatih secara militer--anggota Tatenokai yang didirikannya--pagi itu menyerbu sebuah markas tentara di Tokyo. Dia lalu berpidato di ketinggian, tentang Jepang yang kehilangan keagungan klasik. Tak lama kemudian, di hadapan perwira tinggi yang dia tawan di markas itu, Mishima menjalankan seppuku (ritual memburaikan isi perut) secara tuntas. Dia roboh dalam baju seragam yang gagah dan berlumur darah.

Mishima mati dalam sebuah protes, dengan rasa masygul yang telah tampak dalam novel empat jilidnya, Laut Kesuburan. Karena Jepang telah tenggelam dalam rutinitas politik dan ekonomi modern, tanpa keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan.

Bunuh diri Mishima memancing pengarang Jepang lainnya melakukan tindakan serupa. Yasunari Kawabata adalah teman sekaligus mentor Mishima. Persahabatan mereka berawal sejak Mishima mengunjungi Kawabata pada 1946 sambil mendiskusikan karya-karyanya. Melalui rekomendasi Kawabata, Mishima memasuki pergaulan sastra. Setelah kematian Mishima, Kawabata menjadi depresi dan pada 1972 dia melakukan harakiri dalam usia 73 tahun.
Kawabata adalah orang Jepang pertama yang meraih Hadiah Nobel Sastra. Karya-karyanya yang terkenal antara lain Yukiguni, Sembazuru, dan Yama no oto. Nuansa kesepian dan pikiran tentang kematian yang meresap dalam sebagian besar tulisannya barangkali bersumber dari masa kecilnya yang lara--dia telah kehilangan hampir semua kerabatnya ketika masih muda. Ketika Kawabata menerima Hadiah Nobel pada 1968, dia mengatakan bahwa dalam karyanya, dia berusaha menampilkan indahnya kematian dan harmoni antara manusia, alam, dan kehampaan.

Menurut Émile Durkheim, tindakan bunuh diri terkait dengan tingkat keterikatan seseorang dengan masyarakat. Durkheim menemukan bahwa bunuh diri biasanya terjadi ketika seseorang tidak memiliki ikatan sosial atau hubungan dekat. Kita tahu bahwa menulis adalah pekerjaan yang asketik. Dalam proses kreatifnya, pengarang sering menarik diri dari masyarakat. Sebagai akibatnya, ia akan merasa kesepian. Dalam kondisi seperti itu, ia perlu mengakrabi Tuhan. Bahkan semestinya ia bisa menemukan Tuhan dalam tulisan-tulisannya. Saya yakin pengarang yang seperti itu tidak akan terpikir untuk membunuh dirinya sendiri.
[]oleh: Haris Priyatna

PROF IR HARSONO TAROEPRATJEKA MSIE PH.D

INTEGRATED SYSTEMIC APPROACH
& PARADIGMA TITIK BA

Prof.Ir.Harsono Taroepratjeka,MSIE,Ph.D
Guru Besar Teknik Industri ITB dan ITENAS Bandung, Mantan Direktur Pembinaan Akademik Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Kerangka berpikir teknik industri berkembang dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan rasionalitas manusia dan kompleksitas masalah yang dihadapi dunia industri. Evolusi kerangka berpikir terjadi sejak (1) manajemen ilmiah (pendekatan sistem manusia-mesin), (2) manajemen administratif dan perilaku, (3) management science (pendekatan matematika dan statistika), hingga pada pertengahan abad ke-20 adalah (4) integrated systemic approach. Pada pendekatan terakhir ini masalah pada suatu sistem tidak dipandang secara parsial namun dipandang secara integral, yaitu sebagai satu kesatuan sistem yang utuh. Kerangka berpikir semacam ini sangat penting, sebab optimalisasi suatu sistem (misalnya perusahaan) secara integral tidak dapat dilakukan dengan melakukan optimalisasi tiap-tiap subsistem. Misalnya adalah optimalisasi sebuah perusahaan tidak dapat dilakukan dengan melakukan optimalisasi secara parsial terhadap masing-masing departemen pada perusahaan tersebut. Tiap-tiap departemen (misalnya keuangan, sumberdaya manusia, produksi, dan pemasaran) tidak dapat bekerja sendiri-sendiri untuk dapat memperoleh keuntungan tertinggi bagi perusahaan. Oleh karena itu, selain memulai dari akhir dalam pikiran (begin with the end in mind), misalnya keuntungan berjangka panjang, perusahaan juga harus memulai dari keutuhan dalam pikiran (begin with the whole in mind).

Setiap sistem, pada ruang-waktu yang sama, merupakan subsistem dari sistem yang mencakupinya dan sekaligus merupakan suprasistem dari sistem yang dicakupinya. Sebab di bawah sistem ada sistem lain, begitu pula di atas sistem ada sistem lain. Akibatnya, integrated systemic approach pada suatu sistem (misalnya sistem industri) dapat dipandang sebagai pendekatan parsial pada sistem yang lebih tinggi. Masalahnya, sebagai manusia tanpa titel atau predikat apapun, dari sistem manakah kita memulai dari keutuhan dalam kerangka berpikir? Adakah sistem integral tertinggi sebagai landasan untuk kita memulai memandang dan melakukan perubahan?

Buku ”Titik Ba: Perubahan Sejati Dimulai dari Mata Hati, Bukan Dari Mata Kaki!” berusaha menawarkan jawaban itu. Perumusan gagasan yang begitu dalam dan luas cakupannya itu tentu tidak cukup hanya melibatkan pengetahuan dan keterampilan disiplin teknik industri. Sebaliknya, hal itu memerlukan pengetahuan yang luas dan multidisiplin, perenungan yang dalam dan berkesinambungan, serta pengalaman hidup yang beragam dan panjang. Maka, meskipun penulis telah bersungguh-sungguh selama bertahun-tahun, dia mengatakan bahwa karyanya hanya “awal dari sebuah awal perjalanan”.

Pada buku ini, sistem integral tertinggi disimbolkan dengan “titik”—sesuatu yang bermakna keutuhan, kefanaan, dan sekaligus kesederhanaan tertinggi. Sebagai sistem, “titik” yang dimaksud di sini pun memiliki komponen-komponen yang saling melengkapi secara utuh, yaitu secara berurutan adalah (1) suara Tuhan, (2) diri, dan (3) dunia. Selanjutnya, untuk dapat mencapai keseluruhan sistem yang optimal, menurut integrated systemic approach ketiganya harus diperlakukan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Sepintas lalu penggunaan kata “Ba”, pada frasa “Titik Ba” tampak aneh dan mengada-ada, karena tidak ditemukan dalam kosakata Indonesia maupun Inggris. Sebenarnya tidak demikian. Selain berasal dari penulisan huruf Arab, “Ba” di sini—yaitu pada pendekatan yang lebih pragmatis—juga relevan untuk dianggap sebagai berasal dari bahasa Jepang yang kurang-lebih bermakna a shared context in which knowledge is shared, created and utilized through interaction. Menurut Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi (keduanya pengarang “The Knowledge Creating Company”, Oxford University Press, 1995), penciptaan pengetahuan merupakan sebuah proses spiral dari interaksi antara pengetahuan yang dapat dibahasakan (explicit knowledge) dan yang tidak dapat dibahasakan (tacit knowledge) di antara para pemilik pengetahuan.
***
Saya mengenal penulis, Ahmad Thoha Faz,S.T. sejak akhir 1999 pada waktu dia masuk Teknik Industri ITB. Saya mempunyai banyak kesan mengenai dirinya: mempunyai semangat belajar yang tinggi dan ide yang kuat, namun banyak rintangan yang dia hadapi; mau dan mampu menerima apa yang dia hadapi, sehingga seolah-olah tidak berusaha melawannya. Namun di balik itu, rupanya dia mempunyai gagasannya sendiri. Bila kita ikuti pengalaman hidupnya, kita dapat mengamati bahwa dia sesungguhnya seorang “pemberontak dalam hati”, mempunyai perenungan sendiri dalam menghadapi dunia, tetapi mampu dengan akrab bersahabat dengan dirinya sendiri, keluarga, orang lain, lingkungannya, bahkan Tuhan.

Akhir kata, buku Titik Ba ini perlu dibaca oleh siapa saja, untuk dapat saling berbagi pengetahuan melalui “Ba”, di tengah-tengah pluralitas kehidupan pada era informasi yang makin deras sekarang ini. Saya mengucapkan selamat atas diterbitkannya buku ini. Mudah-mudahan saya dapat segera merekomendasikan kepada teman-teman untuk segera membacanya. Insya Allah.

Bandung, 20 Februari 2006

DR MAUFUR M.PD

TITIK BA:
PARADIGMA ALTERNATIF PENDIDIKAN MANUSIA SEUTUHNYA

Dr.Maufur,M.Pd
Wakil Walikota Tegal, Mantan Rektor Universitas Pancasakti (UPS) Tegal

Manusia seutuhnya, dalam pandangan Islam, memiliki peran ganda, yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Manusia ialah hamba yang terbatas, terikat, dan terpaksa (dependent) di hadapan Allah dan, bersamaan dengan itu, dia menjadi subjek yang bebas di hadapan alam semesta. Oleh karena itu, kedua peran tersebut bukanlah peran yang terpisah tetapi merupakan kesatuan utuh yang menyatu dan membentuk sikap manusia yang bermakna.

Di sisi kehidupan komunitas manusia, kita dilahirkan dalam keadaan penuh kebergantungan (dependence) dengan manusia lain, seiring waktu dan proses pendidikan, berkembanglah potensi kemandirian atau kebebasan (independence) sebagai salah satu fitrah manusia. Oleh karena itu, kemandirian untuk selalu memberi respons yang bermakna pada kondisi lingkungan apapun merupakan nilai inti pendidikan.

Namun karena berbagai faktor, antara lain spesialisasi yang berlebihan dan kekurangpedulian pada persoalan kemanusiaan, pendidikan seringkali menghanyutkan manusia hingga lepas kontak dengan spirit kemanusiaan. Dalam konteks yang lebih dekat, pendidikan telah melahirkan manusia yang memiliki banyak pengetahuan tetapi dengan pemikiran yang kaku, sempit, dan picik. Kondisi ini disebabkan dia mengenal banyak hal tetapi sedikit sekali tentang dirinya.

Sehubungan tersebut di atas, menurut bidang pendidikan umum yang saya tekuni, ada dua hal pokok yang diajukan dalam Titik Ba, yaitu:
Berkaitan dengan konsep kemandirian (independence)
Gagasan dasar Titik Ba, yaitu perubahan dari dalam ke luar (inner-out), merupakan konsep fundamental yang kokoh bagi pendidikan kemandirian. Sebab dengan selalu mendengar suara hati nurani dari diri yang terdalam, seseorang akan selalu bersikap proaktif, yaitu mau dan mampu mengatur dan mengarahkan diri sendiri, tidak bergantung pada kehendak orang lain. Dalam konteks ini, Titik Ba pada satu sisi dapat dipandang menjelaskan dan menuntaskan pembahasan mengenai perubahan dari dalam ke luar yang antara lain menjadi basis filosofi Stephen R. Covey dalam buku bestseller internasional The 7 Habits of Highly Effective People.
Berkaitan dengan konsep kesalingbergantungan (interdependence)
Gagasan dasar Titik Ba lainnya, yaitu berfokus pada “biji“ dan “pokok“, bukan pada “cabang“ atau “ranting“ pengetahuan, dapat menjadi katalisator penciptaan sinergi atau kerja sama kreatif dalam masyarakat. Misalnya, seorang pelajar ilmu sosial dapat memahami secara sederhana namun prinsipil apa yang dilakukan para pelajar ilmu agama maupun ilmu alam. Pemahaman menuju kerja sama multidisipliner semacam ini penting, sebab realitas adalah utuh, tidak terbagi oleh pembagian artifisial disiplin ilmu.

Akhir kata, Titik Ba telah menangkap dan mengungkap banyak makna yang lalu-lalang di seputar kita dengan dukungan berbagai referensi akurat. Sehingga Titik Ba sangat relevan untuk dibaca para ahli, pemerhati, dan praktisi pendidikan, terutama yang konsisten dengan pandangan bahwa manusia merupakan kesatuan fisiko-psikis. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan perlu rumusan tujuan, organisasi kurikulum, sajian materi, dan evaluasi yang serba terpadu.

Tegal, 12 Juli 2006

KH MASDAR F MAS'UDI

TAUHID:
Pembebasan dari “Belenggu Bahasa”
KH.Masdar F.Mas’udi
Ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul ’Ulama), Direktur Eksekutif P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren & Masyarakat)

Inti semua agama yang benar, sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid). Lalu mengapa syariat (atau aspek luar dari agama) para nabi, dari Adam sampai Muhammad, itu berbeda-beda? Jawabannya ialah, karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh, sementara maksud, tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu, seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu. Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya.

Jalan tauhid adalah satu, tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. Istilah al-Quran bi lisani qaumihi (dengan bahasa kaumnya) merupakan negosiasi rasional, bahwa Islam sebagai doktrin dan norma harus dibahasakan dan ditafsirkan sesuai dengan konteks dan sejarahnya. Pendekatan historis ini tidaklah menjadikan agama tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. Oleh karena kebenaran yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka masalahnya tetap sama: bagaimana menangkap pesan inti yang universal itu, yang tidak tergantung kepada konteks, juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-nuzul (sebab-sebab munculnya) suatu ajaran atau hukum.

Banyak ahli akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsikan suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generalisasi tinggi dari makna antara ke makna universalnya. Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas, agar kita waspada jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu yang dianggap suci. Sebab bahasa termasuk kategori historis, dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis.

Nah, buku “Titik Ba“ ini memaparkan tesis yang sama, yaitu bahwa kesadaran yang benar atau kebenaran adalah satu. Kebenaran memancar dari satu titik ke berbagai arah dan kemudian“mengemaskan dirinya” dengan beragam bungkus bahasa. Pengertian bahasa dalam buku ini diperluas mencakup semua sarana untuk membangun dialog dengan Tuhan, Diri, dan Dunia. Namun pengertian bahasa pada buku ini lebih banyak digunakan untuk memahami adanya rintangan komunikasi yang menyebabkan sekat-sekat intelektual di atas perhatian pada sekat-sekat lainnya, misalnya sekat-sekat geografis atau ideologis. Dengan tidak terpaku pada simbol-simbol bahasa, tapi pada makna-makna di baliknya, sekat-sekat batas intelektual yang kokoh dan angkuh pun menjadi transparan sehingga memungkinkan dialog menjadi lebih mudah. Posisi penulis yang sangat strategis, dengan pergaulan dan pengetahuan yang lintas-batas, dapat menjembatani dialog antar pesantren dan kampus-kampus agama di satu sisi dan kampus-kampus umum pada sisi yang lain.Sekat-sekat yang ada merupakan fakta riil yang memang harus kita hadapi dan kita carikan jalan keluar supaya di antara sekat-sekat atau sekte-sekte yang ada itu tetap masih ada pintu atau cerobong yang bisa menghubungkan satu sama lain. Harapannya tentu saja supaya sekat-sekat yang ada itu tidak saling menubruk satu dengan yang lain. Nah, Titik Ba bagi saya berpretensi ke arah itu. Yaitu membuka tabir sekat, bukan berarti dengan menghancurkan sekat-sekat yang ada, tapi lebih pada pembuatan cerobong di antara sekat-sekat itu. Atau mungkin untuk menegaskan bahwa seluruh sekat yang ada itu lahir dari cerobong yang sama. Titik Ba lahir untuk mengingatkan bahwa sekat-sekat itu lahir bukan untuk menyekat dalam arti menutup, tapi untuk memudahkan penelaahan.
Penamaan judul buku ini dengan “Titik Ba” – yang jika disimbolkan ke dalam tulisan Arab niscaya akan menjadi judul yang paling pendek sepanjang sejarah – sangat menarik. Frasa “Titik Ba” sebenarnya merupakan nama yang telah dikenal lama dan luas di dunia pesantren, terutama di kalangan sufi. Namun sejauh ini hal itu tidak dilanjutkan dengan refleksi kritis untuk membangun suatu wacana utuh yang sistematis dan berdimensi praksis.

Dengan penamaan “Titik Ba” agaknya penulis menyadari untuk melandaskan gagasannya pada landasan yang sangat kokoh. Kita menyaksikan bahwa tidak ada peradaban yang bertahan dalam hitungan abad kecuali yang dibangun di atas sistem keyakinan atau pandangan hidup agama. Tengoklah peradaban-peradaban besar dunia yang telah berusia ribuan tahun; Cina dengan Konfusionisme dan Taoisme; India dengan Hinduisme; Jepang dengan Buddhisme dan Sintoisme; Islam dengan asumsi ajaran Islamnya, dan peradaban Barat yang dengan basis keagamaan Judeo-Kristianisme. Sebaliknya, peradaban yang anti agama atau bahkan memerangi agama ternyata tidak bertahan lama, bahkan tidak lebih dari 100 tahun. Seperti peradaban Komunisme. Meski dibentengi dengan analisis logika dan pengetahuan yang canggih, militerisme yang kokoh dan disiplin organisasi yang luar biasa ketat, ternyata hanya bertahan sekitar 60 tahun. Fakta ini menjadi saksi bahwa peradaban manusia tidak bisa bertahan lama kecuali bertumpu pada prinsip-prinsip transendental-keagamaan.

Terakhir, buku “Titik Ba” merupakan bacaan yang mudah dicerna dan sangat bermanfaat, kaya dengan ilustrasi dan contoh yang sesuai dengan “bahasa kaumnya”, untuk bertauhid di tengah-tengah pluralitas kehidupan masyarakat. Selamat membaca dan mengarungi kedalaman makna “Titik Ba”! Wallahu a’lam bi al-shawab.

Jakarta, 28 Februari 2006

Saturday, July 22, 2006

MEMILIH BUKU LOKAL

Memilih Buku "Lokal"
Memilih buku "lokal"yang bermutu---dalam arti karya anak bangsa sendiri, bukan terjemahan--- tidak selalu mudah. Apalagi bagi mereka yang baru mulai "bergaul" dengan buku dan ingin memastikan pilihannya adalah bacaan bermutu. Ada begitu banyak pilihan dan setiap hari pilihan itu bertambah banyak jumlahnya. Berikut beberapa saran yang perlu diperhatikan agar tak salah menjatuhkan pilihan.
Pertama, kenali minat Anda. Fiksi atau nonfiksi? Ilmiah akademis atau ilmiah populer? Filsafat, teologia, agama, ekonomi, politik, sosial, budaya, pemasaran, pengembangan diri, psikologi, sosiologi, manajemen, atau apa?

Kedua, perhatikan pengarangnya. Setiap bidang kajian, baik bersifat informatif, edukatif, atau pun rekreatif, memiliki pakarnya masing-masing. Mereka biasanya dikenal karena publikasi yang luas di media cetak maupun elektronik. Nama pengarang tertentu dapat memberikan gambaran minimum tentang mutu karyanya.
Ketiga, perhatikan penerbitnya. Hal ini penting terutama bila kita tidak mengenal pengarang terkemuka di bidang yang kita minati. Pilih saja penerbit buku terkemuka yang umumnya selektif menerbitkan karya penulis, mengingat mereka ikut mempertaruhkan nama besarnya dengan menerbitkan jenis buku tertentu.
Keempat, perhatikan judulnya. Pengarang yang baik tidak akan memberikan judul sembarangan. Dan judul yang baik seharusnya mewakili pesan-pesan pokok yang ingin disampaikan oleh penulisnya, terutama untuk buku nonfiksi.
Kelima, bacalah sinopsis atau komentar tentang buku tersebut. Umumnya sebuah buku yang baik memuat sinopsis atau komentar para pakar dibidang terkait. Sinopsis dan komentar ini umumnya ditampilkan pada cover belakang buku tersebut. Apakah semua itu menggugah minat untuk mengetahuinya lebih jauh?
Keenam, pertimbangkan harganya. Sebuah buku dengan berbagai macam format ukuran dijual dengan harga yang bermacam-macam. Umumnya untuk menilai apakah harga jual sebuah buku itu mahal atau tidak, dapat diperhitungkan tebal buku, ukurannya, dan harganya.
Dan sebagai parameter minimum untuk buku-buku "lokal", harga jual yang rasional biasanya sekitar Rp 80,00-Rp 120,00 per halaman. Misalnya, buku dengan format yang bagaimanapun kalau tebalnya 280 halaman (xxxvi hlm + 244 hlm isi), maka harganya sekitar Rp 22.400,00--Rp 33.600,00 per eksemplar. Ini dengan kondisi harga kertas tahun 2000. Kalau ukurannya saku, tentunya bisa lebih murah.
Ketujuh, lihat cetakan ke berapa. Buku tertentu disebut-sebut sebagai buku terlaris (best seller books). Artinya, terlepas dari soal mutu isinya, buku itu banyak dibeli orang. Kebanyakan buku nonfiksi dicetak sekitar 3.000 eksemplar pada awalnya. Dan untuk konteks Indonesia, jika cetakan pertama itu habis sebelum 3 bulan, maka itu termasuk buku laris.
Kedelapan, lihat daftar isinya. Kebanyakan buku yang diterbitkan penerbit terkemuka dibungkus plastik yang membuat kita sulit melihat daftar isinya. Namun toko buku yang baik biasanya menyediakan 1-2 eksemplar yang tak terbungkus, sehingga calon pembeli yang berminat dapat lebih dulu melihat daftar isinya untuk mengetahui apakah hal itu berkesesuaian dengan minatnya.
Kesembilan, sangat baik bila kita berkesempatan membaca lebih dulu resensi buku yang kita minati. Sebagian majalah mingguan dan koran edisi minggu selalu menampilkan rubrik pustaka, timbangan buku, resensi, atau sejenisnya. Hal ini dapat membantu kita menyeleksi bacaan agar mendapatkan yang bermutu.
Kesepuluh, mintalah saran dari para pencinta buku yang kita kenal. Masukan dari mereka umumnya berharga untuk dipertimbangkan.
Memang, semua saran di atas tidak memberikan jaminan 100 persen. Namun tidak berarti tidak berguna sama sekali, bukan?
*) Andrias Harefa, bekerja sebagai knowledge entrepreneur, learning partner/consultant, motivational-public speaker, penulis best-seller books terbitan Gramedia dan Kompas, pemrakarsa Komunitas Pembelajar Mahardika dan pengelola situs www.pembelajar.com

DARI PENULIS

DARI PENULIS
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Segala puji hanya kepada Allah, Dialah yang berhak atas segala pujian. Allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad.

Hati saya sangat lega, sebab setelah melalui proses yang pelik dan melelahkan—dikritik dan terus dikritik tentu sesekali bercampur seringai sinis—akhirnya Titik Ba dilirik dengan senyum manis. Membaca, meneliti, menulis, mencetak, menyebarkannya ke kalangan terbatas, dan menanggapi respons berulang kali telah saya lakukan selama empat tahun terakhir (2002-2006). Saya bahkan sering lembur hanya untuk menguntai kalimat beberapa lembar.

Awalnya, saya menulis dengan alasan yang sangat pribadi. Dengan menggunakan komputer teman kos, saya hanya bermaksud melakukan self-therapy sambil merangkum pedoman bagaimana saya dapat BERDIKAHARI (berdiri di atas kaki dan hati sendiri). Apakah konsep-konsep yang selama ini saya pelajari hingga perguruan tinggi benar-benar berguna? Ataukah saya hanya tong sampah yang senang ditimbuni sampah-sampah istilah? Ya, sekadar buku untuk koleksi pribadi, yang dikembangkan dari karya tulis di SMA (1998) dan sebuah autobiografi setebal 200-an halaman A4 (2000).
Namun sekali sebuah titik dipancangkan dengan kokoh dari diri yang terdalam tidak mudah untuk goyang ke titik lain. Saya berharap tulisan itu selesai dalam hitungan minggu, atau bulan, tetapi ternyata 12 bulan terlewati bahkan kemudian saya teledor hingga telat mendaftar ulang hingga kuliah di ITB pun nol SKS. Nol SKS artinya tidak ada pilihan lain. Lagi pula daripada ngomong sendirian karena kecamuk beragam kebingungan dan kegalauan, lebih baik saya menulis sendirian.

Awalnya, saya lari ke buku-buku self-help tetapi tidak banyak membantu alias gagal, sebab yang saya perlukan adalah jawaban yang fundamental. Saya harus menghayati ulang proses kehidupan dan pembelajaran yang saya jalani selama ini, atau saya bisa-bisa gila didera kesia-siaan, kecemasan, dan keputusasaan. Dari sana saya mulai menulis lagi yang ketika itu judulnya adalah ”Dunia Lenyap dalam Dirinya”.
Ketika tinggal di sebuah lab di Teknik Industri ITB, saya berpikir bahwa visi penulisan buku harus lebih besar, atau kalau tidak, energi untuk menulis habis. Yakni bukan untuk sekadar konsumsi pribadi melainkan untuk sebuah pengakuan intelektual semacam ijazah yang tidak cuma satu lembar. Dengan harap-harap cemas saya mulai perkenalkan Titik Ba ke kalangan dosen. Komentar positif dari mereka membuat saya yang masih berkelas slilit lebih gesit untuk terus melejit. Namun, apa yang terjadi?
Jalan buntu! Sementara nasib kuliah tidak menentu. Akhirnya saya bertekad untuk menikah. Saya harus membuat kenangan pada pernikahan itu dengan sesuatu yang paling berharga: Titik Ba. Dengan visi besar itu terkondisikan lagi suasana kerja besar merumuskan Titik Ba untuk mahar pernikahan. Sejak ijab-qabul itu saya berjanji pada diri sendiri untuk membekukan Titik Ba sampai waktu yang tidak ditentukan.
Tidak disangka kakak sepupu isteri (Mas Ali Sobirin) melihat naskah Titik Ba. ”Ini gagasan besar, Ha!” katanya. Beruntung penulis artikel di media massa yang cukup produktif itu tidak jadi membawa Titik Ba ke Jakarta—karena yang ada merupakan ”mahar pernikahan”—sehingga ada waktu bagi saya untuk memperbaiki lagi. Jadilah naskah setebal 700-an halaman A4. Dari P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), resensi Titik Ba disebarluaskan.

So what? Akhirnya, naskah Titik Ba diterima dengan tanda koma oleh sebuah penerbit yang cukup ternama dari Yogyakarta. Pihak editor freelance menjelaskan dari proses penertiban gagasan hingga penerbitan buku. Saya senang, namun tidak disangka prosesnya sangat menguras waktu dan tenaga hingga saya jatuh sakit dan diopname. Pada bulan Mei 2006, proses penerbitan diketahui deadlock.

Dua hari menjelang kelahiran anak pertama, Muhammad Royhan Asoka Faz-Nur, saya mendapat email dari manajer redaksi Mizan Pustaka, Mas Ahmad Baiquni. (Sayang sekali, email itu saya ketahui sebulan kemudian). Kebahagiaan kami menjadi sempurna: momongan (bernama Royhan) dan omongan (yang dikemas apik oleh Mizan) akhirnya muncul juga ke publik.

Demikian dulu cerita subjektif dari saya. Selamat membaca. Semoga setiap insan mampu cukup percaya diri untuk berdiri di atas tumpuan mata kaki dan mata hati masing-masing. Tolong catat, bila perlu gugat, jika pembaca menemukan bagian tulisan saya yang cacat.

Bandung, 31 Juli 2006
Ahmad Thoha Faz
titikba_hayati@yahoo.com



Ucapan Terima Kasih
Tidak pernah akan ada karya intelektual betapapun sederhana, yang tidak melibatkan orang lain. Begitu pula Titik Ba. Kelemahan dan kebodohan sebagai penulis banyak tertutupi oleh hadirnya figur-figur terbaik yang kutemui sepanjang pematang pematangan gagasan. Sumbangan pikiran mereka telah berulangkali menjadi sambungan tak terduga ketika alur dan arus imajinasi saya mendadak putus. Namun begitu, jika ada kesalahan, tetap sayalah yang salah! Jika ada kebodohan, sayalah yang bodoh!
Melalui kesempatan ini, ingin saya sampaikan terima kasih kepada:
· Keempat orangtua dan saudara-saudara kami, khususnya Kang Yasin (hafizh al-Quran yang membawa nuansa Gontor kepada saya) dan Mas Ali Sobirin-Mbak Riri di P3M Jakarta.
· Semua pihak “orangtua” yang telah menerima dan memberi apresiasi pada naskah Titik Ba:
Bapak Prof.Ir.Harsono Taroepratjeka,MSIE,Ph.D.
Bapak KH.Masdar F.Mas’udi
Bapak Prof.Dr.Ir.Djoko Santoso,M.Sc.
Bapak Ir.Muwardi P.Simatupang
Bapak Prof.Dr.Ir. Senator Nur Bahagia,DEA
Bapak Prof.Dr.Ir.Isa Setiasyah Toha,M.Sc
Bapak Ir. Aso Kusuma, M.Eng.
Bapak Dr.Ir.Iftikar Z. Sutalaksana
Bapak dr.H.Nuryanto,SpM dan Ibu dr.Hj.Endang Purwastuti Nuryanto
Bapak KH.A.Aziz Fadil
Bapak H.M.Hammam Miftah,S.Ag.,MM
Bapak H.M.Iqbal,SE,MM
Bapak Brigjen.TNI.dr.M.Joesro,MM
Bapak KH.Dr.Miftah Faridl
Bapak KH.Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)
Bapak Ir.Hermawan K.Dipojono,MSEE,Ph.D
Bapak Dr.Maufur,M.Pd
Bapak Drs.H.Abdullah Zaini
Ibu Tri Susila Hidayati,S.Pd.
Ibu Dra.Hj.Nur Khasanah
Ibu Retno Sudarto Notosiswojo
· Kawan-kawan diskusi yang cerdas dan kritis:
Bapak Suprayogi,Ph.D, Bapak Dr.Andi Cakravastia Raja,ST,MT, Bapak Titah Yudhistira,ST,MT, Yudo Anggoro, Aswian Editri Sutriandi, Taryono Purba, Muhammad Imron Rosyadi Nur dan Aisyah Mayuliani, Henry Marthadinata, Fery Irawan, Arif Wibowo, Jauhari, M.Syaiful Anam (eks presiden KM-ITB), Adi “Onggoboyo” Nugroho, Ariawan, AAGA Widharmika, Nuri W. Wulandari (di Australia), Marina S. Kusumawardhani, Mbak Ratna Sari Dewi, Mas Tatang Sumantri, Mas Ali Sodikin, Mas Yusuf Priyandari, Mas Lucky G. Adhipurna, dan Mas Deden Himawan, Mas Eko Mahendra, dan lain-lain (mohon maaf, terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu).
· Terakhir, sekuntum terima kasih pamungkas (yang berarti terindah) tentu saja buat Siti Nurhayati Faz,S.Pd binti KH.Cholidin yang setia mendukung sang suami untuk melahirkan Titik Ba.

TENTANG PENULIS

TENTANG PENULIS

Tidak ada psikologi; yang ada hanyalah biografi dan autobiografi
Thomas Szasz

Ahmad Thoha Faz lahir di Tegal, 31 Juli 1978, sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara keluarga petani yang selama sebelas tahun (1987-1998) memelihara sapi perah. Karena itu masa kecil dan remajanya dipenuhi kisah-kisah penggembala sapi. Sehabis subuh biasa berkeliling berjualan susu, lalu sepulang sekolah mencari pakan atau membersihkan kandang, dan sore hari kembali berkeliling.
Di luar kegiatan bertani, beternak, dan berdagang keliling, orangtua Thoha (Ustadz A.Zainuddin Shiddiq) ialah tokoh pendidikan yang berulang kali didepak oleh pihak-pihak yang berkuasa. Pertahanan terakhir beliau adalah sebuah majlis ta’lim sederhana di samping rumah kedua orangtuanya, tempat Thoha di malam hari belajar dan kemudian mengajar alif ba ta serta mengenal gagasan titik ba.
Pendidikan formal dimulai tahun 1983 di MI (Madrasah Ibtidaiyyah) dan—karena sempat mogok—berakhir delapan tahun kemudian (1991) di MI yang berbeda. Dilanjutkan di SMP Penawaja (Pendidikan Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yang kental dengan nuansa Gontor (1991-1994)—sebab sang pendiri dan sejumlah staf pengajarnya merupakan alumni pondok pesantren ternama itu. Di sekolah swasta dengan muatan lokal 13 (tiga belas) pelajaran agama itu, selama dua tahun Thoha “mendekam” sebagai seksi perpustakaan OSIS.

Seketika gagal masuk sebuah sekolah semi-militer “gratis” di Magelang yang ketika itu sedang naik daun, bekas penderita toksoplasmosis (sehingga seringkali dia kesusahan membaca tulisan di papan tulis) itu “terdampar” di SMA swasta di dekat terminal lama Tegal (sekarang Pasific Mall). Ketika itu Thoha sempat tinggal di pesantren dan bekerja di losmen sampai akhirnya pada November 1994 dia nekat memilih drop out. Pada masa-masa menjelang dan ketika tanpa seragam sekolah itu tulisan awal titik ba ditorehkan (1994-1995).
Juli 1995, Thoha masuk SMA Negeri 1 Tegal, sebuah sekolah paling favorit di daerah Tegal dan sekitarnya. Ketika itu musholla sekolah yang di dalamnya terdapat perpustakaan dengan koleksi buku-buku keislaman cukup lengkap menjadi “sekolah kedua” baginya. Dari sana pula gagasan Titik Ba muncul ke permukaan sebagai karya tulis di SMA (1998) berjudul Mengembangkan Sikap Ilmiah: Prinsip-Prinsip Sains (Dalam Garis Besar dan Penyederhanaan).
Tatkala menutup kelas dua (sekarang kelas XI), dengan permintaan maaf karena tidak dicantumkan di pengumuman, oleh kepala sekolah Thoha dinyatakan menduduki peringkat kedua dari 308 siswa IPA. Beranjak ke kelas tiga, kendati pada nilai murni ulangan umum masih termasuk sepuluh besar, selama setahun sekitar 50 hari andalan SMA 1 Tegal di ajang kompetisi matematika dan pemahaman al-Qur'an itu tercatat absen di kelas. Thoha lebih memilih ke sawah atau belajar sendiri di rumah daripada jauh-jauh ke sekolah. Akibatnya, dua kali orangtuanya dipanggil kepala sekolah dengan ancaman hendak dikeluarkan.
Juni 1998, sehabis mengurus pendaftaran UMPTN (sekarang SPMB) Thoha mendadak ingin pulang. Tepat ketika tiba di rumah ternyata adik perempuan satu-satunya meninggal. Selain gagal mengikuti UMPTN, kejadian itu sangat menyentak sehingga dia menulis sisi lain cikal-bakal Titik Ba, yakni berupa autobiografi yang dimaksudkan sebagai self-therapy sehingga bercorak psikologis-filosofis-religius.
Ketika kembali melepas seragam sekolah, Thoha menjadi guru di MI (dengan honor Rp 17.500-Rp 20.000 per bulan); turut membina pengajian anak-anak; mendirikan Ikatan Putera NU (IPNU) tingkat ranting; bersama dua mahasiswa UI merintis perpustakaan; dan terakhir tepat pada awal Mei 1999 banting setir dengan merintis Makiyah (Madrasah Kulliyyat al-Islamiyyah), sebuah satuan pendidikan nonformal alternatif dengan identitas 99 asmaul husna yang berjalan hingga tiga tahun (1999-2002). (Ketika di ITB, nomor urut 99 dari 99 anak teknik industri angkatan 99 merupakan “nomor cantik” yang selalu mengingatkannya pada rangkaian peristiwa di mana dia mengalami sendiri untuk memahami realitas sosial terdekat—yang selama bersekolah hampir selalu dia abaikan).
Dengan tanpa sokongan keuangan dari keluarga, pemuda desa yang terbiasa berbicara dan berjalan cepat itu tentu saja terseok-seok di Kampus Ganesha. Ketika divonis 0 (nol) SKS di tahun keempat, nasib kuliahnya menjadi gawat. Dalam situasi kosong yang merongrong itu, Thoha berusaha keras menuntaskan gagasan Titik Ba.
Sejak tahun kelima, Thoha menggelandang di kampus. Terakhir kali “hinggap” dan merinding menahan dingin (di samping menahan malu) hingga beberapa bulan di atap gedung teknik industri. Seorang dosen menemukan tempat tinggal yang “tidak manusiawi” itu hingga akhirnya Thoha dapat tinggal di sebuah laboratorium. Sejak itu pula, dengan kemudahan akses informasi dan komunikasi melalui internet, roda gagasan Titik Ba menggelinding lagi.
Ketika “dinobatkan” sebagai anggota calon drop out, Thoha memutuskan menikah (18 September 2004). Naskah Titik Ba (cetakan pribadi yang kelima) menjadi mahar persehatian dua insan yang ketika itu baru dipertemukan dan sama-sama belum lulus kuliah.
Sekarang, sebagai wadah pengembangan dan penerapan gagasan lebih lanjut, orangtua dari Muhammad Royhan Asoka Faz-Nur (lahir 21 Juni 2006) yang juga pemilik Faz Agency ini berobsesi merintis Titik Ba Learning & Innovation Center atau disingkat “titikbalic”.
Character, like a steel, is forged again and again in a high temperature, under unconvenient environment. It's a long process to go thru to create a strong steel. This guy here, I've known him for this last 7 years, has reflected the strong steel itself. His life, for some of us, is a real example of an amazing story. Under a series of unpleasant situation in his life, he always showed courage, strong will, and high determination to create his own future…A great thinker, an amazing conceptor, a good husband for his wife, what can you expect more from him?,” tulis kawan terdekatnya, Yudo Anggoro,S.T. (Ketua Angkatan TI 99 dan Ketua Keluarga Mahasiswa Teknik Industri ITB 2002-2003), sebagai testimonial di friendster.

KATA PENGANTAR (DARI TIGA TOKOH)

...merupakan bacaan yang mudah dicerna dan sangat bermanfaat, kaya dengan ilustrasi dan contoh yang sesuai dengan “bahasa kaumnya”, untuk bertauhid di tengah-tengah pluralitas kehidupan masyarakat...
KH.Masdar F.Mas’udi, Ketua PBNU, Direktur Eksekutif P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat).

Titik Ba telah menangkap dan mengungkap banyak makna yang lalu-lalang di seputar kita dengan dukungan berbagai referensi akurat... sangat relevan untuk dibaca para ahli, pemerhati, dan praktisi pendidikan, terutama yang konsisten dengan pandangan bahwa manusia merupakan kesatuan fisiko-psikis...
Dr.Maufur,M.Pd, Wakil Walikota Tegal, Mantan Rektor Universitas Pancasakti (UPS).

...dia sesungguhnya seorang “pemberontak dalam hati”, mempunyai perenungan sendiri dalam menghadapi dunia...
Prof.Ir.Harsono Taroepratjeka,MSIE,Ph.D, Guru Besar Teknik Industri ITB dan ITENAS Bandung, Mantan Direktur Pembinaan Akademik Ditjen Dikti Depdikbud RI.

REKTOR ITB

Sebuah buku yang impresif, membahas masalah sains dan teknologi dalam rangka hubungan segitiga antara Tuhan, manusia, dan alam. Sains dan teknologi tidak ditempatkan sebagai teks dalam kompleksitas dan kerumitan ilmiah, tetapi dalam wilayah populer yang akrab dengan berbagai disiplin lain. Ia cair, tapi sekaligus sarat dengan renungan filosofis.

Dengan cara itu, penulis buku ini menawarkan sebuah konsep awal tentang cara memandang dunia yang berpusat pada kesadaran di mana sains dan teknologi menjadi perangkat yang sebetulnya goyah, yang ketetapannya selalu menyediakan bagian-bagian untuk dipertanyakan. Bagi masyarakat ilmiah dalam sains dan teknologi, buku ini membuka ruang dialog yang menarik. Bagi masyarakat luas, buku ini kiranya telah menambah kosakata pengetahuan yang sangat menarik, menambah perbendaharaan kacamata untuk melihat dunia...
Prof.Dr.Ir.Djoko Santoso,M.Sc., Rektor ITB.

KH MIFTAH FARIDL

Tauhid, selain merupakan anutan seseorang yang beriman, juga menjadi energi yang mengubah motivasi menjadi perilaku. Dengan kekuatan tauhid pula eksistensi manusia bisa berada pada kondisi seimbang di antara Tuhan dan alam, dan karenanya ia menjadi khalifatullah untuk mengemban misi rahmatan lil ’alamin. Untuk memelihara spirit tauhid, diperlukan proses pembelajaran, pembiasaan, dan sekaligus bimbingan. Buku karya Ahmad Thoha Faz—yang merupakan hasil kerja intelektual yang sarat semangat spiritual—ini dapat menjadi salah satu ”guru” untuk menemukan spirit tauhid yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak setiap individu...

KH. Dr. Miftah Faridl, Ulama dan Cendekiawan.

atas nama Allah al-rahman al-rahim

kullu amrin dzi balin la yubda'u fihi bi "bismillahirrahmanirrahim" fa huwa aqtha'......segalanya hanya "titikba" maka jika tiada dilekatkan pada nama-Nya pastilah fana dan sia-sia.

In memoriam KH.Muqoffa Barmawi,
beliau ialah guru yang bersahaja, setiap hari ke SMP Penawaja dengan sepeda tua, mengajarkan kami nahwu shorof, hadits, kitabus sa'adah,..."membatin" (belajar menggunakan hati bukan mulut). DAN yang terpenting, beliau mengajarkan kami makna basmalah.
Allahumma ighfir lahu warhamu...

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...